makalah tata cara kepengurusan jenazah

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ………………………………………………………………

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……………………………………………………………
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………
C. Tujuan Makalah……………………………………………………………..

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sesaat Setelah Meninggal …………………………………………….
B. Memandikan Jenazah……………………………………………………
C. Mengkafani Jenazah…………………………………………………….
D. Mensholatkan Jenazah…………………………………………………..
E. Mengiringi Jenazah………………………………………………………
F. Menguburkan Jenazah…………………………………………………..

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………………….
B. Saran ………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita ketahui bahwa petunjuk Rasulullah saw. Dalam masalah penanganan jenazah adalah petunjuk dan bimbingan yang terbaik dan berbeda dengan petunjuk umat-umat lainnya. Bimbingan beliau dalam hal mengurus jenazah didalamnya mencakup aturan yang memperhatikan sang mayat. Termasuk member tuntunan yaitu bagaimana sebaiknya keluarga dan kerabatnya memperlakukan jenazah/mayat.

Dengan demikian, petunjuk dan bimbingan Rasulullah saw. Dalam mengurus jenazah ini merupakan potret aturan yang paling sempurna bagi sang mayat. Aturan yang sangat sempurna dalam mempersiapkan seorang yang telah meninggal untuk kemudian bertemu dengan Rabbnya dengan kondisi yang paling baik. Bukan hanya itu, keluarga dan orang-orang yang terdekat sang mayat pun disiapkan sebagai barisan orang-orang yang memuji Allah dan memintakan ampunan serta rahmat-Nya bagi yang meninggal.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Tata Cara Mengurus Jenazah?

2. Bagaimana Perihal Sholat Jenazah?

3. Bagaimana Tata cara Penguburan Jenazah?

4. Bagaimana Mempraktikkan tata cara pengurusan Jenazah?

C. Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui tuntunan dalam mengurus jenazah sesuai syariat Islam.

2. Untuk mengetahui bagaimana tata cara yang terbaik dalam mengiring jenazah hingga mengantarkannya ke dalam liang kubur sebagai bentuk penghormatan terakhir baginya.

Bab II
PEMBAHASAN
A. Sesaat Setelah Meninggal
1. Menutupkan kelopak matanya
2. Mengikat rahang dengan tali yang lembut
3. Menutupinya dengan kain dari kepala sampai telapak kakinya
4. Menempatkannya di tempat yang layak dan jauh dari gangguan binatang
5. Momohonkan ampun

B. Memandikan Jenazah
Memandikan adalah kewajiban pertama yang harus dilakukan kepada jenazah sebagai upaya untuk menyucikannya. Hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifayah yaitu, apabila telah dikerjakan oleh sebagian muslim, maka bagi yang lain gugur kewajibannya. Dengan dalil Nabi saw tentang seorang muhrim (orang yang mengerjakan ihram) yang terjatuh dan terlempar dari untanya.

Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dengan dua helai kainnya.
(Muttafaqun ‘alaihi)

a. Syarat jenazah yang harus dimandikan
1. Beragama Islam.
2. Jenazah yang menjadi rusak apabila terkena air, maka ditayamumkan saja.
3. Anggota badannya masih ada, walaupun hanya sebagian.
4. Jenazah bukannlah orang yang mati syahid dalam peperangan membela Islam. Sebagaimana hadits Rasulullah saw :

Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dia dengan dua helai kainnya.
(Muttafaqun ‘alaih)
b. Syarat orang yang memandikan jenazah
1. Islam
2. Berakal
3. Amanah
4. ‘Alim
5. Mayat laki-laki dewasa dimandikan oleh laki-laki dan mayat perempuan dewasa dimandikan oleh perempuan, kecuali muhrim atau suami/istri.
6. Yang memandikan adalah keluarga terdekat.
7. Jika muhrim tidak ada, jenazah dimandikan oleh orang yang mengerti dan dipercaya.
8. Yang memandikan menjaga kebersihan mayat.
9. Menjaga kerahasiaan jenazah.
c. Cara memandikan jenazah
1. Jenazah ditempatkan di tempat yang terlindung dari panas matahari, hujan atau pandangan orang banyak (tertutup).
2. Jenazah ditempatkan di tempat yang lebih tinggi atau tempat khusus memandikan jenazah.
3. Jenazah diberi pakaian mandi seperti sarung atau kain agar mudah memandikannya dan agar auratnya tertutup. Orang yang memandikan hendaknya memakai sarung tangan.
4. Bersihkanlah setiap kotoran dan najis yang melekat pada anggota tubuh jenazah.
5. Jenazah diangkat (didudukkan) perutnya, agar kotoran yang mungkin ada dalam perutnya dapat keluar.

6. Kotoran yang ada pada kuku jari-jari tangan dan kaki dibersihkan, termasuk kotoran yang ada dimulut atau gigi.
7. Siramkan air ke seluruh tubuh merata dari kepala sampai ke kaki.

8. Setelah seluruh tubuh disiram, kemudian digosok dengan sabun dan disiram kembali sampai bersih dan merata ke seluruh bagian tubuh.
9. Selanjutnya, jenazah didudukkan dan disiram kembali dengan air yang dicampur kapur barus, daun bidara atau benda lainnya yang berbau harum. Air yang digunakan hendaknya air yang suci dan mensucikan.
d. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memandikan jenazah
1. Mendahulukan anggota-anggota wudhu dan anggota tubuh sebelah kanan saat menyiramkan air.
2. Memandikan jenazah disunnahkan tiga kali siraman atau lebih dengan jumlah bilangan ganjil.

Dasar yang digunakan ulama dalam berijtihad dalam tata cara memandikan jenazah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ummu Atiah :

عن ام عطية قلت دخل علينا النبي صلى الله عليه وسلم و نحن نغسل ابنته فقل اغسلنها ثلاث او خمسا او اكثر من ذلك ان رايتن ذلك بماء وسدر واجعلن فى الاخرة كفور او شيئا من كفور . متفق عليه

Diriwayatkan dari Ummu Atiah r.a. sewaktu Zainab binti Rasulullah saw wafat, “Rasulullah saw datang kepada kami sewaktu putrinya meninggal dunia. Nabi saw bersabda, “Mandikanlah dia 3 kali atau 5 kali (siraman), atau lebih dari itu jika kalian pandang perlu, dengan air dan bidara. Hendaklah siraman terakhir dengan air kapur barus atau sejenis itu. Apabila kalian telah selesai memandikannya, “Kami memberitahunya, lalu memberikan kain kepadanya, kemudian Nabi saw bersabda, “Kenakan kain ini kepadanya”(HR Bukhari dan Muslim)
C. Mengkafani Jenazah
Mengkafani jenazah merupakan kewajiban kedua setelah jenazah dimandikan. Hukumnya adalah fardhu kifayah. Kain yang digunakan untuk mengkafani sebaiknya kain yang berwarna putih. Rasulullah saw bersabda :
عن ابن عباس رضي االله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال كفنوا فى ثوبيه . رواه الجما عة

Dari Ibn Abbas ra., sesungguhnya Nabi saw berkata:”kafanilah dia (orang yang mati ketika ihram) dengan kedua pakaiannya”. (HR al-jamaah)

1. Yang diwajibkan dari kafan adalah menutupi seluruh tubuhnya. Rasulullah saw bersabda dalam hadits Jabir r.a. :

Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannya.
(HR Muslim)
Ulama berkata : “Yang dimaksud memperbagus kafannya, yaitu yang bersih, tebal, menutupi (tubuh jenazah) dan yang sederhana. Yang dimaksud bukanlah yang mewah, mahal, dan yang indah.” [Ahkamul Janaiz, 58]
2. Biaya kain kafan diambil dari harta jenazah, lebih didahulukan daripada membayar hutangnya. Rasulullah saw bersabda tentang seorang yang meninggal dalam keadaan ihram :

… kafanilah ia dengan dua bajunya.
(Muttafaqun ‘alaih)
3. Disunnahkan untuk dikafani dengan tiga helai kain putih. Karena Rasulullah dikafani dengan tiga lembar kain putih suhuliyyah, berasal dari negeri di dekat Yaman. Diberi wewangian dari bukhur (wewangian dari kayu yang dibakar). Rasulullah saw bersabda :

Apabila kalian member wewangian kepada mayyit, maka berikanlah 3 kali.
(HR Ahmad)
4. Apabila ada beberapa jenazah, sedangkan kain kafannya kurang, maka beberapa orang boleh dikafani dalam satu kafan dan didahulukan orang yang paling banyak hapalan Al Qur’annya, sebagaimana kisah para syuhada Uhud.
5. Kafan seorang wanita sama seperti kafan seorang lelaki. Syaikh Ibnu Utsmain berkata : “Dalam hal ini telah ada hadits marfu’ (kafan seorang wanita ada lima helai kain). Akan tetapi, di dalamnya ada seorang rawi yang majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata : “Seorang wanita dikafani seperti seorang lelaki. Yaitu tiga helai kain, satu kain diikatkan diatas yang lain. [Asy Syahrul Mumti 5/393, dan Ahkamul Janaiz, 65].
a. Cara Mengkafani Jenazah
Berikut cara-cara mengkafani jenazah:
1. Mengafani sekurang-kurangnya satu lembar kain kafan. Disunnahkan bagi laki-laki 3 lembar kain kafan dan perempuan 5 lembar (sarung, gamis, khimar, dan dua helai kain).
2. Bentangkan kain kafan yang dapat menutupi seluruh tubuh, kemudian di atas kain kafan ditaburi kapur barus yang sudah dihaluskan.
3. Bentangkan kain kafan yang dapat menutup dari bahu hingga tumit di atas kain kafan yang pertama, kemudian taburkan kapur barus yang sudah dihaluskan.
4. Di atas kapur barus yang sudah dihaluskan diberi kapas, kemudian letakkan jenazah dan tutuplah lubang-lubang jenazah (mata, telinga, hidung, dubur, qubul, juga luka yang lubang kedalam), anggota sujud (dahi, ujung hidung, lutut, dua telapak tangan, dan jari-jari kaki bagian bawah), serta persendian dengan kapas/kapuk.
5. Aturlah tubuh jenazah dengan baik dan letakkan tangannya di atas dada dengan posisi tangan kanan di atas tangan kiri. Tutupkan kain kafan sehingga menutupi seluruh tubuh jenazah dan ikatlah dengan kain. Sebaiknya menggunakan 5 ikatan, yaitu di ujung kepala, bahu, pinggang, lutut, dan ujung kaki. Posisi ikatan ada di sebelah kiri atas.

b. Cara mengafani jenazah perempuan
Jenazah perempuan disunnahkan untuk dikafani dengan lima lembar kain. Diantara beberapa lapis kain tersebut diberi harum-haruman. Cara mengafani jenazah perempuan, mula-mula dihamparkan kain yang membungkus seluruh tubuh jenazah. Setelah itu, jenazah diletakkan diatas kain dan diberi harum-haruman. Selanjutnya jenazah diberi baju, tutup kepala, dan cadar yang masing-masing diberi harum-haruman. Kemudian seluruh tubuh jenazah dibungkus dengan kain pembungkus.

PENTING !
1. Jenazah laki-laki diharamkan dikafani dengan kain sutra. Disunnahkan bagi jenazah laki-laki dikafankan dengan 3 lembar kain yang menutupi selurug tubuhnya.
2. Bila setelah dikafani keluar kotoran/darah lagi, maka sudah dimafu’, tidak usah disucikan lagi. [Fiqhus Sunnah I/266]

D. Menshalatkan Jenazah
Shalat jenazah adalah shalat yang dilakukan sebanyak empat kali takbir dalam rangka mendo’akan orang muslim yang sudah meninggal. Jenazah yang dishalatkan ini ialah yang telah dimandikan dan dikafani. Shalat Jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi semua orang muslim yang hidup. Rasulullah saw bersabda tentang orang yang bunuh diri dengan anak panah :

Shalatkanlah saudara kalian
(HR Muslim)

a. Syarat shalat jenazah
1. Menutup aurat, suci dari hadas besar dan hadas kecil, bersih badan dan pakaian, terhindar dari tempat yang najis serta menghadap kiblat.
2. Jenazah telah dimandikan dan dikafani.
3. Letak jenazah di sebelah kiblat orang yang menyalatkan, kecuali shalat jenazah di komplek kuburan atau shalat ghaib (shalat untuk oranng meninggal yang jenazahnya tidak hadir)

b. Rukun shalat jenazah
1. Niat.
2. Berdiri bagi yang mampu.
3. Takbir 4 kali.
4. Membaca surah Al Fatihah.
5. Membaca shalawat kepada Nabi saw.
6. Mendoakan jenazah.
7. Membaca salam.

c. Sunnah shalat jenazah
1. Mengangkat tangan pada setiap takbir (empat takbir)
2. Melirihkan suara dalam bacaan shalat (siri)
3. Membaca ta’awudz
4. Diikuti jama’ah dalam jumlah yang banyak
5. Memperbanyak jumlah shaf, bila diusahakan 3 shaf

d. Tata cara shalat jenazah
Jika jenazah yang dishalati laki-laki, maka kepala jenazah ada di selatan (untuk wilayah timur ka’bah) dan imam berdiri di hadapan kepala jenazah. Jika jenazahnya perempuan, maka kepala jenazah ada di utara (untuk wilayah timur ka’bah) dan imam berdiri di depan perut atau pinggangnya.. Disunnahkan untuk membentuk tiga shaf, sebagaimana sabda Rasulullag saw :

Barang siapa yang menyalatkan jenazahdengan tiga shaf, maka sesungguhnya dia diampuni.
(HR At Tirmidzi)
 shalat jenazah laki-laki
 shalat jenazah perempuan
Setelah semua telah disiapkan, maka mulailah shalat :
1. Mula-mula jenazah berdiri dengan niat untuk melakukan shalat jenazah. Adapun niat shalat jenazah adalah sebagai berikut :
• Untuk jenazah laki-laki

اُصَلِّى عَلَى هَذَا اْلمَيِّتِ اَرْبَعَ نَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا / اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

• Untuk jenazah perempuan

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ اْلمَيِّتَةِ اَرْبَعَ نَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا / اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

• Untuk jenazah ghaib (imam)

اُصَلِّى عَلَى اْلمَيِّتِ اْلغَائِبِ (فُلاَنْ) اَرْبَعَ نَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

• Untuk jenazah ghaib (makmum)

اُصَلِّى عَلَى مَنْ صَلىَّ عَلَيْهِ اْلاِمَامُ اَرْبَعَ نَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

2. Takbiratul ihram disusul dengan membaca surah Al Fatihah
3. Takbir yang kedua membaca shalawat kepada Nabi saw
4. Takbir yang ketiga yaitu mendoakan jenazah. Adapun doanya adalah sebagai berikut :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْ خَلَهُ وَاجْعَلِ الْجَنَ
مَثْوَاهُّ
“Ya Allah, ampunilah dia sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempat kediamannya, basuhlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia sebagaimana dibersihkannya pakaian yang putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, ahli keluarga dengan ahlimkeluarga yang lebih baik, dan istrinya/suaminya dengan istri/suami yang lebih baik. Dan peliharalah dia dari huru hara alam kubur dan siksa api neraka.”

Jika jenazahnya adalah anak yang belum baligh maka doanya adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَناَ فَرَطاً , وَسَلَفاً , وَأَجْراَ

“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pendahulu bagi kedua orang tuanya, dan titipan dan simpanan, dan nasehat, dan pelajaran, dan pertolongan. Dan beratkanlah timbangan kedua orang tuanya dan selesaikanlah atas kesabaran hati kedua orang tuanya, dan janganlah terjadi fitnah sesudahnya dan janganlah Engkau halangi pada kami akan pahalanya”
5. Takbir yang keempat membaca doa berikut ini :

اللهم لا تحرمنا اجره (ها) ولا تفتنا بعده (ها) واغفر لنا وله (ها)

“Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari mendapat pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sepeninggalannya, serta ampunilah kami dan dia”
6. Kemudian disusul dengan membaca salam ke kanan satu kali.

Syaikh Ibnu Utsmain menegaskan : “Pendapat yang benar ialah tidak masalah (jika) salam dua kali, karena hal ini tertera di sebagian hadits Nabi saw.” [Asy Syahrul Mumti, 5/424]
Diantara dalil yang menjelaskan tentang salam dua kali dalam shalat jenazah adalah hadits riwayat Ibnu Mas’ud :

“Ada tiga kebiasaan (yang pernah) dikerjakan Rasulullah saw, namun, kebanyakan orang meninggalkannya. Salah satunya (yaitu) salam dalam shalat jenazah seperti salam di dalam shalat.”
(HR Al Baihaqi)

Syaikh Al Albani menyatakan, diperbolehkan hanya satu kali salam yang pertama saja, karena hadits Abu Hurairah :

Sesungguhnya Rasulullah saw dahulu shalat jenazah; beliau bertakbir empat kali dan salam satu kali.
(HR Ad Daraquthni dan Al Hakim)
E. Mengiringi Jenazah
1. Hukum mengiringi jenazah adalah fardhu kifayah. Karena termasuk hak seorang muslim. Rasulullah saw bersabda :

Kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima (yaitu) : menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangannya, dan mendo’akan orang bersin.
(HR Bukhari dan Muslim)
2. Keutamaan mengiringi jenazah. Rasulullah saw bersabda :

Barang siapa yang menyaksikan jenazah hingga dishalatkan, maka dia memperoleh satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkan, maka dia memperoleh dua qirath,” kemudian beliau ditanya : “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” belliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.”
(HR Muslim)
3. Disunnahkan untuk bersegera ketika mengangkat jenazah. Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata : Saya mendengar Nabi saw bersabda :

Bersegeralah kalian ketika membawa jenazah. Apabila dia orang shalih, maka kalian akan segera mendekatkannya pada kebaikan. Dan apabila bukan orang shalih, maka kalian segera meletakkan kejelekan dari punggung-punggung kalian.
(HR Muslim)
4. Dianjurkan untuk mengangkat jenazah dari seluruh sudut keranda dengan sifat tarbi’, yakni mengangkat dari empat sudut keranda, berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud r.a :

Barangsiapa yang mengikuti jenazah, maka hendaklah dia mengangkat dari seluruh sudut keranda, karena hal itu merupakan sunnah. Apabila dia mau, maka hendaknya mengangkat hingga selesai. Dan kalau dia tidak mau, maka hendaknya ditinggalkan.
(HR Ibnu Majah)
5. Mengiringi dan mengangkat jenazah adalah khusus bagi kaum laki-laki. Tidak boleh wanita untuk mengiringi jenazah, karena hadits Ummu Athiyah menyatakan :

Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, akan tetapi tidak ditekankan kepada kami.
(HR Bukhari)
6. Diperbolehkan berjalan dibelakang jenazah atau didepannya. Hal ini sesuai dengan perkataan Ali r.a. :

Berjalan dibelakang jenazah lebih afdhal daripada berjalan didepannya seperti keutamaan seorang laki-laki shalat berjama’ah dibandingkan dengan shalat sendirian.
(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Dahulu apaabila Rasulullah saw menyalatkan mayyit, Beliau mengikutinya sampai kuburan, berjalan kaki di depannya. Hal ini merupakan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahnya. Disunnahkan untuk orang yang mengirinya untuk berjalan dibelakangnya. Apabila berjalan kaki, hendaknya mendekat kepada jenazah, dibelakangnya atau di depannya, di sebelah kanan atau kirinya. Dahulu Beliau saw memerintahkan untuk bersegera ketika mengangkat jenazah, sehingga dahulu mereka sungguh berjalan dengan cepat. Adapun perbuatan manusia pada zaman sekarang yaitu berjalan setapak demi setapak merupakan bid’ah yang dibenci dan menyelisihi syari’at, dan menyerupai ahli kitab dari Yahudi.” [Zaadul Ma’ad, 1/498]
7. Tidak diperbolehkan mengiringi jenazah dengan sesuatu yang menyelisihi sunnah. Misalnya seperti mengeraskan suara ketika menangis, berdzikir dan mengucapkan taharrum (berdo’a untuk mayyit agar diberi rahmat).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Tidak dianjurkan untuk mengeraskan suara ketika mengiringi jenazah, baik dengan bacaan atau dzikir atau yang lain. Hal ini merupakan madzhab imam yang empat. Dan inilah yang kami ketahui dari salaf, dari sahabat dan tabi’in. aku tidak mengetahui seorangpun yang menyelisihinya. [Majmu Fatawa, 24/293, 294]
8. Diharamkan mengiringi jenazah dengan sesuatu yang mungkar, seperti memukul kendang, alat music yang mencerminkan kesedihan, meratap dan yang lainnya. Demikian pula apabila wanita memukul rebana ketika jenazah diberangkatkan ke kuburan.
9. Apabila pada acara mengiringi jenazah terdapat kemungkaran, sedangkan dia tidak mampu untuk menghilangkan seluruhnya, maka dia tetap mengikuti jenazah tersebut, demikian menurut pendapat yang benar.

Pendapat ini merupakan satu diantara pendapat Imam Ahmad. Dan dia mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuannya. [Al Akhbarul Ilmiyyah Minal Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, 132]
10. Tidak mengapa mengiringi jenazah dengan naik mobil atau kendaraan lain apabila kuburannya jauh.
11. Disunnahkan untuk tidak duduk hingga jenazah diletakkan di tanah. Rasulullah saw bersabda :

Apabila kalian mengikuti jenazah, maka janganlah duduk hingga diletakkan.
(HR Bukhari dan Muslim)
12. Disunnahkan bagi orang yang mengangkat jenazah untuk wudhu.
Rasulullah saw bersabda :

Barangsiapa yang memandikan mayyit, maka hendaknya dia mandi. Dan barangsiapa yang mengangkatnya, maka hendaknya dia wudhu.
(HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

F. Menguburkan Jenazah
Menguburkan jenazah adalah kewajiban terakhir setelah jenazah dimandikan, dikafankan dan dishalatkan. Hokum menguburkan mayat adalah fardhu kifayah.
Allah SWT berfirman :

Kemudian Allah mematikan dan menguburkannya.
(QS. ‘Abasa : 21)
Adapun orang-orang yang menguburkan mayat harus laki-laki, karena beberapa hal yaitu :
1. Bahwasanya hal ini dikerjakan oleh kaum muslimin pada zaman Rasulullah saw sampai saat ini.
2. Karena kaum lelaki lebih kuat untuk mengerjakannya.
3. Jika hal ini dikerjakan oleh kaum wanita, maka akan menyebabkan terbukanya aurat di sepan laki-laki yang bukan mahramnya.
Dalam masalah ini, wali mayyit merupakan orang yang paling berhak menguburkannya, berdasarkan firman Allah SWT :

Dan orang yang memiliki hubungan kerabat sebagian dari mereka lebih berhak dari yang lain.
(QS Al Anfal : 75)
a. Cara menguburkan jenazah

Cara-cara menguburkan jenazah adalah sebagai berikut :
1. Mula-mula dibuatkan liang lahat sepanjang jenazah yang dalamnya kira-kira setinggi orang ditambah lengan dan lebarnya kira-kira 1 meter. Didasar lubang dibuat miring lebih dalam ke arah kiblat. Maksudnya, agar jenazah tidak mudah dibongkar oleh binatang buas setelah jenazahnya membusuk.
 liang lahat
2. Setelah sampai di tempat pemakaman, jenazah dimasukkan ke liang lahatdengan posisi miring ke kanan dan menghadap kiblat. Ketika kita meletakkan jenazah hendaknya membaca doa :

Dengan menyebut nama Allah dan atas agama Rasulullah
3. Tali-tali pengikat kafan dilepaskan, pipi kanan dan ujung kaki ditempelkan ke tanah.

4. Selanjutnya, jenazah ditutup dengan papan kayu atau bamboo dan diatasnya ditutup dengan tanah sampai galian liang kubur kembali rata. Tinggikan gundukan tanah kuburan dari permukaan tanah dan di atas kepala diberi tanda batu nisan. Ini dimaksudkan agar berbeda dari yang lain dan agar kuburannya dapat terjaga dan tidak dihinakan. Hal ini sesuai oleh hadits Jabir r.a. :

Sesungguhnya Nabi saw menggali liang lahat dan menancapkan batu bata dan meninggikan kuburan sekadar satu jengkal.
(HR Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
5. Tanah kubur jenazah disiram air mawar dan air biasa. Hal ini sesuai dengan hadits bahwa sesungguhnya Nabi saw telah menyiram kuburan putra beliau Ibrahim.
6. Mendoakan dan memohonkan ampun jenazah. Hal ini sesuai dengan hadts Nabi saw yang artinya, : “Apabila Nabi saw selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri diatasnya dan bersabda, Mohonkanlah ampun untuk saudaramu dan mintakanlah untuknya supaya diberi ketabahan karena sesungguhnya ia sekarang ditanya.”
7. Sebelum meninggalkan kuburan disunnahkan mengambil tanah galian untuk dilontarkan di atas kubur tiga kali. Kali yang pertama dengan membaca, “minha kholaqnakum” dari tanah kami diciptakan. Kali kedua dengan membaca, “wa minha nu’idukum” dan kepadanya kami dikembalikan. Dan kali ketiga dengan membaca “wa minha nukhrijukum tarotan ukhro” dan darinya kami dikeluarkan lagi.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tentang jenazah di atas dapat ditelaah bahwa kewajiban seorang muslim satu dengan yang lainnya saling membantu. Begitu pula kewajiban seorang yang hidup terhadap seorang yang mati ialah mengurus jenazahnya. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan jenazah haruslah didasarkan atas perintah-perintah yang telah diajarkan sejak dulu oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula dengan ziarah kubur yang yang disunnatkan bagi kaum laki-laki dan bagi kaum perempuan dimakruhkan.

B. Saran
Kami menyadari dalam penulisan makalah kami ini mungkin terdapat kekurangan-kekurangan dalam penyampaian materi. Maka dari itu kami harap saran dan kritikannya untuk membangun isi makalah kami ini agar kedepannya menjadi lebih baik. Semoga makalah jenazah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa di terapkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s